Jumat, 23 Oktober 2009

cerpen: Nina


BUKAN MAUNYA KARSO

Oleh: Nina Sri Maria

Mempertahanan hidup memang sulit. Bertahan dalam kejamnya suasana sosial kini tak gampang. Kebobrokan moral yang telah jadi trend masa kini, hingga butir-butir kemanusiaan seakan terhapus dalam silsilah kenormaan. Bukan hanya moral saja yang telah langka. Tapi sumber penghidupan pun telah payah ditemui, dikerjakan, apalagi untuk dicintai.

Sumber dari jalan hidup. Saat ini memang ibarat mencari sebuah intan di empang. Ketika hendak diambil yang dapat hanya lumpur dasarnya saja.

Mentari begitu hangat menyapa dedaunan yang masih basah karena embun. Cahaya telah menyibakkan gelap malam yang indah. Yang segelap kehidupan sebuah keluarga kecil. Tapi gelapnya kehidupan mereka tak seidah gelap malam yang dapat menyingkirkan kagalauan di siang hari.

Sang ibu, di pagi hari disibukkan untuk membuat sarapan pagi, sangat seadanya. Yang ada untuk dimasaknya hanya nasi dan daun singkong yang dipetik di halaman belakang rumah. Miris sekali hati ibu itu menatap masakan yang ia siapkan itu, namun apalagi yang bisa dimasaknya seain itu. Setelah selesai menyiapkan sarapan , ia pun mulai meracik bumbu untuk berjualan si Bapak sore harinya.

“Bu hanya ini sarapan kita?” tanya Nur, anak sulung di rumah itu. Si ibu hanya menatapnya tanpa menjawab pertanyaan anaknya. Nur pun menundukkan kepalanya sembari duduk di kursi kayu yang terlihat lapuk. Tak lama Iman, adik Nur keluar kamar dan ikut sarapan bersama kakaknya.

“Kalau sudah siap sarapannya, langsung berangkat kesekolah ya…” ujar Bu Lastri, ibu dari ke dua bocah tadi.

“Ya bu…”

Tak lama si Bapak keluar dari kamar mandi dan ikut serta bersama putera-puterinya.

“Ini uang jajan kalian,” kata si Bapak sambil menyodorkan beberapa lembaran uang kertas.

“Tapi pak, kan sudah Iman bilang semalam, kalau Iman harus beli buku. Masa bapak lupa?”

“Kan sudah bapak bilang, bapak belum punya uang!” ujar si Bapak membentak

“Tapi pak.”

“Sudahlah Nur berangkat sana, nanti kalian lerlambat,” perintah ibu menengahi.

Nur dan Iman berangkat kesekolah berjalan kaki. Pak Karso mulai naik pitam, kini dia agak tempramen. Padahal dulunya ia adalah seorang bapak yang sabar dan lembut kepada anak-anaknya.

Mbok ya sabar pak. Gak usah marah-marah sama anak. Kasian mereka.”

“Pusing saya buk! Pusing!” pak Karso tampak stress

“Ya tapi kan kasian anak-anak mereka gak tahu apa-apa,” ujar Bu Lastri mencoba menenangkan hati suaminya itu.

“Ibu bisa bilang tenang. Tapi ibu gak tahu kan bagaimana memikirkan semua ini?” pak Karso mulai tenang, mungkin karena ia kini juga murah pasrah pada keadaan.

“Pak, ibu juga pusing kalau terus-terusan memikirkan ini, bapak kira ibu gak stress? Mau masak gak ada apa-apa. Semuanya habis.” Sejenak suasana membisu

“Maafin bapak ya bu…”

“Iya pak! Yang penting sekarang kita harus terus berusaha bagaimana caranya agar kita punya uang lagi. Mau ngutang sudah gak mungkin pak.”

“Kenapa gak mungkin bu?”

“Hutang kita sudah banyak pak. Di warung, juga sama para tetangga. Sudah tak mungkin kita hutang pada mereka. Tak mugkin mereka mau pak.”

Pak Karso menghela nafas panjang. Dadanya seperti sesak, baginya semua susah. Sehingga untuk bernafas lega saja susah sekali. Kemiskinan benar-benar telah menjerat keluarganya. Statusnya sebagai tukang sol sepatu di pagi hari dan sorenya sebagai seoarang pedagang bakso keliling sungguh membuat ia resah. Terkadang ia berpikir ini cobaan atau benar Tuhan tak mau peduli dengan nasib keluarganya.

***

Sepulangnya pak Karso dari pasar. Ia bermaksud berjualan bakso keliling tapi yang ia lihat gerobak baksonya masih terparkir di samping rumah, padahal biasanya jam segini sudah siap.

“Bu, kok balum siap-siap? Gerobaknya kok masih di samping?” tanya pak Karso sambil meletakkan peralatan solnya di rak

“Apa yang mau kita jual pak?”

“Maksud ibu apa?

“Iya pak, apa yang mau kita jual? Modal kita sudah habis untuk membayar uang kontrakan rumah ini. Bapak taukan?”

“Kenapa ibu bayarkan?”

“Bagaimana gak ibu bayarkan. Dari pada kita disuruh angkat kaki dari rumah ini.”

Pak Karso menyandarkan tubuhnya di dinding pintu yang terlihat bolong-bolong munkin karena dimakan rayap

“Itu pun kita masih nunggak dua bulan lagi pak…” keluh Bu Lastri yang mulai ikut-ikutan tak tahan lagi

“Jadi?”

“Jadi apa pak? Bapak hari ini dapat uang berapa?” Pak Karso hanya menggeleng.

“Lagi-lagi tak ada order ya pak? Kok seperti ini sih pak nasib kita…” Bu Lastri nyatanya hampir tak sanggup lagi untuk menitihkan air mata. Pedih begitu bersarang dalam batinnya. Ia tak pernah meminta hidupnya begini, saat awal menikah dulu, Pak Karso dan Bu Lastri membayangkan hidupnya akan bahagia dan berkecukupan, ternyata salah, semua hanya mimpi pengantin baru saja.

Buk Lastri coba mendatangi ke warung sebelah untuk mengutang beras buat mengisi lambung yang tak kuasa ditahan lagi. mungkin hanya itu yang dapat di lakukanya, sebenarnya ia tak mau begitu, tapi ya… karena ia sudah benar-benar sudah tak punya uang lagi buat membelinya. Tapi apa yang didapat bu Lastri, hanya amarah da cibiran dari si pemilik warung.

“Buk Lastri… hutang ibu itu di sini sudah sangat banyak. Belum ibu bayar, ini mau ngutang lagi!”

“Tapi bu saya butuh untuk makan anak-anak. Saya tidak punya uang lagi.”

“Kalau tidak punya uang ya sudah, makanya ibu tu bekerja!”

“Tapi bu…”

“Maaf bu tempat lain saja…”

Buk Lastri pergi tanpa mendapatkan apa-apa. Hatinya gusar, karena Nur terlihat pucat akhir-akhir ini ia sering muntah-muntah dan pusing. Ia takut terjadi apa-apa sama puterinya itu yang kini mulai branjak dewasa. Ia dan suaminya bermaksud memeriksakan Nur ke rumah sakit. Tapi boro-boro kerumah sakit, untuk makan sehari-hari saja kini sangat sulit. Mereka juga berusaha mencari pinjaman sama tetangga, terutama pak Haji tetapi tak seorang pun yang memberinya.

Kemelaratan telah mencekik leher keluarga ini. Pak Karso tak lagi berjualan bakso. Kini ia hanya bekerja sebagai tukang sol sepatu. Tak seberapa hasilya, bahkan bisa dalam satu hari tidak mendapatkan apa-apa.. keputusasaan pun melanda sepasang suami-isteri ini. Buk Lasri telah berusaha mencari pekrjaan sebagai tukang cuci, tapi tak seorang pun dari tetangganya yang mau mempekerjakannya, mugkin karena tetangganya sudah pakai mesin untuk mencuci. Segala daya upaya telah mereka lakukan. Tapi mengapa rupiah begitu sulit sekali didapat. Inikah hidup sebenarnya? Merasakan kepahitan terus berkepanjangan dan semakin parah pula dari hari kehari. Entah harus kemana lagi mereka mencari uang sedangkan Nur terlihat tambah parah, tapi tak satu pun dari tetangga yang iba melihat mereka

***

Selama seminggu ini, kampung Suka Damai digegerkan dengan kabar, ada maling jagung. Kebun jagung milik Pak Haji Romli, kabarnya setiap malam disatroni maling. Karena dirasa Pak Haji jagung miliknya tiap malam terus berkurang. Kampung itu menjadi heboh, menurut warga kampung mereka selalu aman dan damai jauh dari kerusuhan apalagi kemalingan seperti ini. Ini benar-benar mengejutkan mereka.

Kebun jagung seluas dua hektar itu, ditanami jagung, kacang tanah, sayur-sayuran, pisang, dan cabai. Haji Romli yang dikenal pelit, tidak terima jagungnya dicuri orang. Jangankan Pak Haji yang amat pelit, orang yang tidak pelit saja juga pasti akan tidak terima kalau barang miliknya diambil orang tanpa permisi. Memang dalam semalam jagung yang dicuri tak sebarapa, namun karena dilakukan hampir tiap malam jadinya cukup banyak jagung yang hilang sebelum dipanen..

Di rumah saat Nur baru pulang dari sekolah, ia menceritakan apa yang ia dengar ketika di jalan mau pulang.

“Bu di rumah Pak Haji ramai sekali. Orang-orang pada heboh.”

“Ada apa rupanya di rumah Pak Haji?”

“Katanya ada maling di kebun Pak Haji.”

Bu Lastri menatap wajah Nur, ia terlihat sedikit pucat. “Kenapa bu?”

“Ah…eng…enggak… ya sudah sana ganti baju terus langsung makan siang,”

Tak lama Pak Karso juga pulang, sama seperti Nur, ia pun membawa berita itu juga. Bu Lastri dan Pak Karso saling melemparkan pandangan, mereka tampak bingung mungkin karena selama ini kampungnya selalu aman.

Malam kian larut, dingin malam kian menusuk. Hening benar-benar terasa terutama di rumah Pak Karso, yang beralaskan tanah liat, berdindingkan anyaman bambo, serta atap rumah bukan lah genteng. Tambah akrablah dingin itu sama keluarga ini. Tiba-tiba suasana hening terpecah oleh teriakan dari warga. Teriakan “Maling” jelas menyeruak di malam itu. Ternyata itu karena warga telah menunggu maling jagung itu, dan hendak menangkapnya. Tapi maling itu dapat meloloskan diri dari kejaran masa.

Paginya suasana lebih heboh dari kemarin. Tiap warga berasumsi. Ada yang bilang inilah-itulah, macam-macamlah, bahkan ada yang bilang “Wajarlah Pak Haji kemalingan wong jadi orang kaya kok pelit amat.”

“Pak Karso kok tadi malam tidak ikut pengejaran?” tanya Pak Bejo, ketika Pak Karso memperbaiki sepatunya di teras rumahnya.

“Keluar? Ada apa rupanya pak?” Tanya Pak Karso bingung

“Wah… Pak Karso ketinggalan info toh?”

“Info?”

“Kan tadi malam kita semua pada ngejar maling jagungnya Pak Haji.”

“O… saya gak tahu pak. Tadi malam saya tidurnya nyenyak sekali. Habisnya saya capek pak, maklumlah kerjanya terus keliling.”

“Tapi benar juga Pak Haji kemalingan, hitung-hitung beramal,” kelakar Pak Bejo

“Ah… Pak Bejo bias saja.”

Di rumah yang sangat sederhana, Pak Karso beristirahat, rebahan di kasur yang keras, melepaskan lelah yang menggandoli tubuh cekingnya itu. Tiba-tiba Iman datang

“Pak…pak…! Kak Nur Pak…! Kak Nur..,” ujar Iman panic

“Kenapa kakakmu?”

“Kakak itu pak pingsan di dapur…”

Pak Karso lansung bergerak mengejar puterinya yang tergeletak di dapur, dengan hidungnya mengeluarkan darah.

“Bangun nak…. Kamu kenapa? Gusti… kenapa anak ku….” Jerit Pak Karso saat memangku Nur

Pak Karso membawa Nur ke Bidan desa

“Bu, bagaimana keadaan puteri saya?” Tanya Pak Karso sambil mendekap isteri dan anaknya

“Untuk kepastian Nur sakit apa. Saya belum tahu karena alat yang saya punya tidak lengkap. Lebih baik bawa dia kerumah sakit saja,” jawab Bu Bidan

“Kerumah sakit?”

“Agar kita tahu apa penyakit Nur sebenarnya, saya khawatir penyakitnya serius. Supaya dapat ditangani dengan tepat.”

“Tapi saya tidak punya biaya bu.”

“Bapak kan bisa mengurus surat ASKIN dari Pak Lurah. Nanti biar saya yang merekomendasikan ke rumah sakit di kota.”

“Baik Bu…”

Pak Karso mencoba mengurusnya, tapi tetap saja perlu waktu untuk prosedur. Dia mencoba minjam uang sama Pak Haji, lagi-lagi hanya tangan kosong yang dibawanya pulang. Pak haji tak sudi meminjamkan uangnya padahal itu untuk berobat tetapi memang dasar Pak Hajinya yang pelit.

Malam ini orang-orang suruhan Pak Haji mengintip kebunya, tapi sudah dutunggu sampai hamper subuh, si maling tidak menampakkan batang hidungnya. Mungkin si maling sudah tahu kalau kebun itu malamnya sudah diintip.

***

Karena beberapa malam kebun itu dijaga, si maling pun tak beroperasi juga. Jadi malam jumat itu tak dijaga karena sudah capai dijaga tappi tuh maling tak nongol juga. Tapi malah jumat paginya jadi heboh, lagi-lagi Pak Haji kebobolan. Pencuri yang hebat, dia bisa tahu kapan kebun itu dijaga dan kapan tidak dijaga.

Jelas saja orang saling tuduh. Ada yang bilang itu pasti orang desa sendiri. Karena sungguh tak mungkin dia bisa tahu kalau malam itu tidak ada yang menjaga.

Pak Karso dan Bu Lastri tak larut dalam kehebohan itu, mereka lebih memilih untuk semakin giat mencari uang dan mengusahakan perobatan Nur.

Esok malamnya ladang itu sengaja tak dijaga. Untuk memancing pencuri itu agar datang lagi. Memang benar, pencuri itu tahu bahwa tidak ada orang yang menjaga. Dan esoknya Pak Haji tidak menggembar-gemborkan masalah itu ke khalayak, karena ia curiga kalau pencuri itu orang kampung itu sendiri. Jadi ia menyusun rencana supaya pencuri itu datang ketika orang suruhannya berjaga. Tepat sekali, pas orang-orang Pak Haji mengintip. Maling itu datang, kali ini maling itu salah strategi. malingnya pun terdiri dari dua orang, kelihatanya mereka sepasang lelaki dan perempuan. Saat maling itu asyik memanen jagung, pasukan penggerebek langsung menyerbu. Tak dapat mengelak, karena yang menggerebek bukan hanya orang-orang Pak Haji, tapi juga warga yang geram.

Pencuri itu tak dapat melarikan diri, mereka terjebak dikepungan orang-orang. Warga memukuli mereka dengan balok, bahkan ada ada yang menyabet dengan sabit. Anarkis memang sangat. Setelah mereka puas menghajar ke dua maling itu hingga berlumuran darah , mereka pun membuka penutup wajah itu, apa yang didapati? Sungguh warga tek menyangka, sepasang suami-isteri yang dikenal tak banyak ulah dan santun, nekad menjadi maling.

Maling itu habis babak belur. Karena sudah tahu siapa malingnya dan mereka pun iba, akhirnya mereka langsung membawa sepasang maling itu ke rumah sakit. Yang ada kepala meling laki-lakinya harus mendapat banyak jahitan, sedangkan yang perempuan tangan dan kakinya harus di gips karena lengannya kena sabetan sabit salah seorang warga yang ikut mengeroyok. Dan kakinya kena pukulan balok.

Maling laki-laki harus mendekam di sel, sedangkan yang wanita harus dirawat intensif di rumah sakit.

Padahal paginya sepasang maling itu harus membawa Nur kerumah sakit untuk berobat karena ASKIN yang mereka urus sudah selesai. Memang benar Nur ke rumah sakit, tapi bukan untuk berobat melainkan untuk melihat keadaan ibunya yang koma di rumah sakit.

Di ruang tempat ibu mereka dirawat, Nur dan Iman hanya dapat menangisi nasib ibunya. Mereka tak menyangka kalau orang tuanya akan berbuat senekad itu demi anak-anaknya.

Setelah melihat ibunya, mereka bergegas menjenguk ayahnya di rumah tahanan.

“Maafi bapak ya nak… bapak gak pantas menjadi bapak kalian…”

“Bapak gak salah kok… Nur dan Iman sayang sama bapak dan ibu..” ujarnya menenangkan hati bapaknya dan larut dalam pelukannya.

“Bagaimana ibumu?” tanyanya sambil memangku Iman

“ Ibu nasih belum sadar pak.”

Perkataan Nur membuat hati Pak Karso bertambah perih. Sebagai seorang suami dan ayah buat isteri dan anak-anaknya. Ia tidak dapat membahagiakan mereka yang sangat ia sayangi.

Miris hatinya membayangkan ini. Kini hanya penyesalan yang menggumpal di dadanya. Ia merasa kesal atas nasib yang menggiringnya kini.

Ranah Kompak

Senin, 19 Oktober 2009

saat seleksi Anggota baru KOMPAK angkatan II

Selasa, 13 Oktober 2009

Hasil Seleksi Anggota Baru Tahap I
Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK)

Nama Peserta Prestasi
1. Febri Mira Rizki A+ (Istimewa)
2. Afni Aisyah Sihaloho A+ (Istimewa)
3. Sakinah An-Nisa A+ (Istimewa)
4. Zuliana Ibrahim A (Sangat Baik)
5. Hirza Rahmayati A (Sangat Baik)
6. Mariah Al Qibtia A (Sangat Baik)
7. Wika Fitriana Siregar A (Sangat Baik)
8. Nurfiana A (Sangat Baik)
9. Ertina Br. Barus A (Sangat Baik)
10. Maya Indah Sari A (Sangat Baik)
11. Sari Lestari B (Baik)
12. Eva Ardiana B (Baik)
13. Eka Fitri Lestari B (Baik)
14. Eva Agustina B (Baik)
15. Indah Wulandari B (Baik)
16. Dewi Fitriana B (Baik)
17. Irfandi Gajah B (Baik)
18. Ibnu Husaini B (Baik)
19. Iis Afrianti B (Baik)
20. Eliza B (Baik)
21. Deliana br. Ginting B (Baik)
22. Purnama Sari B (Baik)
23. Yunita Lestari B (Baik)
24. Hernita C (Cukup)
25. Dorsita Sri Rahayu Pasaribu C (Cukup)
26. Elisabeth Parhusip C (Cukup)
27. Handayani S. C (Cukup)
28. Hindah Sumaiyah C (Cukup)

Keterangan: Selamat dan sukses karena nama-nama yang tercantum di atas telah lulus seleksi dan berhak mengikuti Writing Camp Sastra.

Kamis, 10 September 2009

Puisi: Gurat Pilu



Gurat Pilu
20 Mei 2009
Api mengayun langkahmu ke haluan
dan aku menguap dari ceruk jiwamu
Bila saja waktu tak terpedo dan buaikan gejolakku,
pasti tak sempat mengakar sesal dalam bidak cintamu
Gagahmu melintas di asa yang membusuk
seperti kail yang mengoyak kerongkongan, tak lepas
Hanya menyilang tapak-tapak lusuh yang pernah dijejak
hingga tak terberita derita yang mendera keping-keping raga
Kini tak terhapus gurat-gurat pilu di dahi kelabuku
pada hilir jiwa aku coba menguntai namaku di nisan

ini saat kebersamaan buka bersama tanggal 10 september 2009, yang dirasakan saat ini adalah keceriaan luar biasa! semua yang hadir terlihat benar-benar kompak.

Jumat, 04 September 2009

Cerpen: Lara


”LARA”

Oleh: Wahyu Wiji Astuti

Tadi pagi hidungnya berdarah lagi. Dia tidak panik. Sudah biasa baginya akhir-akhir ini. Ini sudah yang kelima kali, bahkan kali ini darah juga keluar dari mulutnya. Entah sakit apa, tidak ada yang tahu, termasuk dirinya sendiri. Yang dia tahu hanyalah, “aku sakit”, itu saja. Tapi tak pernah mengadu.

D

ua puluh tahun usianya, tapi gurat di wajahnya seakan melukiskan derita hidup yang telah lapuk. Matanya cekung, lingkar matanya menghitam dan wajahnya pucat. Airmukanya sendu. Mungkin dia telah lupa caranya tersenyum. Sayang, padahal senyumnya sangat manis….

Sudah tiga bulan terakhir ini dia seperti itu. Dulu tidak! Dulu senyumnya selalu terukir, jika tersenyum mata lebarnya menyipit. Aih…, manis sekali. Dia tak pernah tertawa terbahak, senyumnya katup. Orang suka melihatnya. Matanya selalu berbinar-binar, jalannya semampai. Sempat ada lelaki yang melihat surga di binar matanya, walau kadang dia juga terlihat pucat ketika lelah. Tapi dia selalu mampu menutupinya dengan senyum.

Hari-hari sebelum tiga bulan terakhir, dia adalah gadis manis, Laras namanya. Larasati. Tapi dia lebih senang dipanggil Lara. Lara, seperti hatinya yang kerap dirundung duka. Lara yang cerdas dan manis, senyumnya ramah namun pendiam. Gadis yang bijak tapi sopan, Lara….

Setiap melihat wajahnya semua orang tersenyum, sebab Lara selalu mengajak orang tersenyum. Sorot matanya tajam, penuh simpatik dan teduh. Tiap geraknya menunjukkan semangat hidup yang penuh optimis dan berapi-api. Cukup berkarakter untuk kategori seorang gadis.

Tapi semua itu perlahan pudar sejak hari itu. Ada yang mengganggu hatinya. Lara menutup teleponnya sambil tersedu-sedu setelah mengobrol panjang di telepon tadi. Tangisannya dalam, airmatanya deras sekali berderai-derai. Lara naik ke tempat tidur dan membekap wajahnya dengan guling agar isaknya tak terdengar oleh orangtuanya. Lara memang tak pernah menangis di depan orang lain. Tangannya meremas ujung bantal dengan sangat erat, seakan ia membagi kesedihan di ujung syaraf jarinya. Nafasnya naik turun, pundaknya terguncang-guncang dengan tangisnya. ia menghabiskan malam dengan tumpahan airmata hingga matanya merah dan bengkak sekali pagi hari. Lara menutupinya dengan kacamata. Sejak itu, matanya selalu sembab dan sorotnya redup.

Lara lebih memilih diam dan menghindari keramaian. Jika dulu dia tersenyum ketika berpapas dengan orang lain, kini dia hanya tertunduk. Tubuh langsingnya gontai berjalan, terlihat lemah sekali, raut wajahnya seperti menyimpan beban yang amat berat. Lara jarang terlibat pembicaraan lagi, dia hanya menulis dan menulis. Sudah berlembar-lembar kertas dihabiskan, entah itu dengan puisi, cerita, atau hanya siluet-siluet yang meneriakkan kegalauan hati. Temannya sempat bertanya,

“Lara, kau kenapa? Akhir-akhir ini kau tampak beda,” tapi Lara hanya menggelengkan kepala dan tersenyum getir. Sering juga orang menyapanya,

“Kau pucat sekali, kenapa? Kau sakit?” namun Lara hanya tersenyum, seolah-olah senyumnya menyuruh sang penanya untuk tidak melanjutkan pertanyaan-pertanyaan lain.

***

Tiap saat Lara mengambil handphone-nya dan melihat layarnya berkali-kali. Seperti orang yang sedang menunggu sesuatu dengan wajah bimbang, setiap hari. Kesehatannya kian memburuk, ia sering terbatuk, berat sekali, dan ketika batuk ia memegang dadanya menahan nyeri, memegang sudut kanan dan kiri dahinya dengan kedua tangan sambil memejamkan mata. Hingga sore itu Lara jatuh pingsan, tubuhnya lemah sekali. Dan orangtuanya membawa Lara ke dokter keluarga.

Setelah diperiksa, dokter berbicara kepada Ibunya, entah apa yang dibicarakan, ia hanya sempat mendengar suara dokter samar-samar, sementara suara Ibu sangat pelan hingga tak terdengar sedikitpun.

“Sudah sepuluh tahun? Itu sudah termasuk sangat kuat. Pada kasus seperti ini biasanya pasien hanya mampu bertahan paling lama enam sampai delapan tahun.

Apa selama ini ada keluhan?

Itu sudah hebat, berarti anda sangat menjaga kesehatannya. Apa Anda memberinya semacam pengobatan atau terapi?

Jika tidak, pada pasien seperti ini biasanya bertahan karena ia memiliki semangat hidup tinggi dan mampu menjaga emosinya.

Baiklah, yang dapat kita lakukan adalah terus menjaga emosinya, obat-obatan yang saya berikan bukanlah penyembuh, tetapi hanya menekan perkembangan penyakit dan penghilang rasa sakit, tetapi dalam jangka panjang obat ini justru akan melemahkan syaraf, jadi sebisa mungkin jangan sampai membebani fikirannya, mungkin itu bisa membantu.

Ya, dan satu lagi, jangan sampai ia terkena flu atau menangis, karena akan memacu produksi lendir di pernafasannya, itu bisa lebih membahayakan kesehatannya.” Kata-kata dokter cukup mewakili untuk membuatnya paham akan kondisinya, walau ia tidak lagi bertanya apa-apa pada Ibu.

***

Malam ini Lara menulis lagi, butir-butir airmata menghiasi kertas yang ditulisnya hingga kadang tulisannya kabur karena basah, namun Lara tak peduli. Ia terus menguntai kata demi kata di lembar kertas merah muda,

“Dia ingin pergi membawa separuh jiwa dan semangat hidupku. Bagaimana aku bisa hidup tanpa dia? Aku telah menitipkan separuh jiwaku kepadanya. Jika dia pergi meninggalkan aku, bagaimana aku bisa hidup dengan setengah jiwa yang rapuh? Aku tak bisa hidup tanpa dia! Sungguh! Lebih baik dia membunuhku saja daripada dia meninggalkan aku, karena percuma aku hidup tanpa dirinya. Aku sangat mencintainya Tuhan! Aku sangat mencintainya bahkan melebihi aku mencintai diriku sendiri, sungguh ini tak ku dramatisir. Jika aku bisa memilih, aku akan membuang perasaan yang menyakitkan ini. Tolong maafkan aku! Aku akan berlutut di hadapanmu, bahkan bersujud di kakimu agar kau memaafkan aku, atau kau ingin menukar nyawaku dengan maafmu? Ambillah! Ambillah nyawaku asal itu bisa membuka maafmu. Aku memang wanita bodoh yang tak pandai menyenangkan hatimu hingga kau bosan padaku, tapi seperti itulah aku, aku harus bagaimana? Katakan aku harus bagaimana agar kau tak bosan padaku?” tangisnya pecah, tapi ia hanya sendiri.

Pria itu datang dalam hidupnya dua setengah tahun yang lalu, membawa semangat hidup baru, dan selalu mampu mengalirkan ketenangan padanya, hingga dalam hidupnya Lara hanya mengenal dia. Dia datang ketika Lara hampir rubuh, dan menjadi kekuatan hingga Lara seakan utuh. Tapi kini dia ingin meninggalkan Lara karena satu kata yang mengiris-iris hatinya, “bosan”.

Lara mencampakkan pena, lalu terduduk di lantai. Tangisnya henti, ia rebah perlahan dan meringkuk. Tatap matanya seperti memikirkan suatu hal yang tak biasa. Tak lama ia bangkit, seperti entah mendapat kekuatan darimana ia membereskan kamarnya. Ia rapikan buku, pakaian, dan barang-barangnya. Lara membungkus rapi barang-barang kesayangannya, menyatukan semua catatan harian dan membuang semua catatan yang tak ingin diketahui orang lain. Tak butuh waktu lama untuk membuat kamarnya rapi dan wangi.

“Hahh, semua sudah rapi, jadi tak susah lagi ibu merapikan kamarku jika aku sudah tidak ada nanti,” gumamnya. Lara terduduk, malam itu ia telah berniat untuk mengakhiri hidupnya.

“Tak ada gunanya lagi aku hidup, aku sungguh tak tahan dengan semua ini, percuma saja jika aku hidup sementara semangat hidupku sudah tak ada lagi. Bagaimana manusia bisa hidup dengan separuh jiwa yang rapuh? Dan jika pun aku hidup, mungkin aku bisa gila.” hatinya berkata-kata.

Lara memikirkan dengan cara apa dia harus menerbangkan nyawa? Ia tak mau esok pagi terlihat seram bergantung dengan mata terbelalak dan lidah terjulur. Ia juga tak ingin esok hanya pingsan dengan mulut berbusa. Akhirnya ia mengambil pisau lipat dari laci meja untuk menyayat nadinya, tapi ia teringat satu hal.

Tak akan ia mati tanpa meninggalkan pesan. Diambilnya kertas dan pena, ditulisnya surat untuk pria yang disebutnya malaikat pelindung, lalu selembar lagi permohonan maaf dan pesan-pesan kepada orang tuanya. Semoga Tuhan mengampuni aku yang telah melakukan dosa besar ini. Lara bersujud, agak lama….

Tangan kanannya memegang pisau kecil itu dengan sangat erat, perlahan ditorehnya ke nadinya, perih… Lalu darah segar mengucur. Ia kembali bersujud, dalam sujudnya ia teringat Ibu dan Ayahnya, teringat Tuhannya. Ia ingat belum banyak ibadah yang dilakukannya. Terngiang-ngiang di telinganya kata-kata dokter tempo hari, sungguh Tuhan telah menganugrahinya hidup lebih lama. Lalu untuk apa ia menjemput kematian karena kematian pun akan menjemputnya tanpa diminta, bahkan mungkin dalam waktu dekat ini juga. Ia ingat seminggu lalu kakek datang tersenyum padanya dalam mimpi, ia teringat kemarin malam mbah kakung datang dalam mimpi dan memeluknya, ia teringat tadi malam nenek datang dalam mimpinya tanpa berkata apa-apa. Mereka semua telah lama tiada. Terakhir Lara teringat pria itu, pria yang dulu sangat mencintainya, apakah dengan mati berarti dia mendapatkan Akbar? Bukankah dengan mati Akbar juga akan menjadi milik orang lain? Lalu ia teringat dosanya, belum sempat pun ia meminta maaf kepada Ibunya.

Lara bangkit, kepalanya berat, pandangannya kabur, ia segera mengambil kapas dan kain lalu menghentikan darah yang berasal dari nadi tangannya. Barusan Lara telah melakukan hal bodoh. Ia membersihkan tetesan darah yang belum begitu banyak mengotori ruangan. Lara bersujud kembali, kali ini sujudnya khusyuk, lalu Lara tertidur….

***

Lara pandai menyembunyikan luka, baik luka di pergelangannya, maupun luka di hatinya. Hari-harinya kemudian berlalu dengan jiwa kosong. Tak lagi ia mampu melepas gelak tawa, bibirnya pucat dan beku. Kebahagiaannya terpasung. Ia memilih berteman dengan pena, karena dengan pena ia bisa mengurai luka, sebab menangis ia tak boleh, seperti kata Ibu, demi kesehatannya. Maka dibuatnya bendungan airmata. Walau terkadang airmatanya tumpah tak terbendung. Ia juga lebih sering menengadahkan tangan kepada Yang Kuasa.

Lara menguntai sajak tanpa judul, seluruhnya. Jika ditanya judul ia tak bisa. Lara membaca satu diantara untai sajaknya, Aku dipaksa merajut syair-syair ungu/ Seperti peri yang dianugerahi sayap agar dia terbang/ Satu tanda tlah tergores/ Untukmu...

***

Lara tak masuk kuliah,

Tengah malam tadi ia terbangun, terbatuk dengan sangat berat. Lara bangkit hendak mengambil air putih di dapur, tiba-tiba ada yang membuat risih hidungnya, dirabanya, darah segar menetes dari hidungnya. Tak jadi ia minum, diambilnya selembar tissue dan membersihkan, ia masuk ke kamar mandi. Setengah jam ia berdiri, menunggu darah itu berhenti. Sesekali memencet pangkal hidung, dan menengadah, lalu membersihkannya dengan air.

Berat sekali kepalanya malam itu, ia kembali ke tempat tidur. Kaki dan telapak tangannya dingin. Ia merebahkan diri, serasa onggokan daging tubuhnya sulit digerakkan, ia lemah sekali. Paginya ia tak bisa bangkit, ia memaksakan untuk bangkit, tapi terjatuh, lalu pingsan. Ketika terbangun ia sudah berada di tempat tidur lagi, tapi disampingnya ada Ibu yang tersenyum menyambutnya.

“Sudah sadar,?” tanya Ibu

“jangan banyak beraktivitas, istirahatlah dulu, hari ini tidak usah kuliah.” sambungnya. Lara hanya mengangguk patuh. Setelah menyuapi Lara, Ibu keluar meninggalkannya agar beristirahat.

Bosan Lara berbaring di tempat tidur, ia mengambil buku catatannya dan merangkai kata,

Ini hari kelima belas aku menorehkan nada-nada kematian/ Kali ini aku hanya ingin menangis, berikanlah waktu untukku bersenda gurau dengan airmata/ karena mungkin nanti aku tak mampu lagi berairmata. / Jika waktu yang ada hanya tuk mengukir pilu di hatiku, baik tak ada. / Tapi waktu tak dapat ku tepis, maka akulah yang kan menggulung jiwa.”

“Tess.., tess.., “ darah menetes di atas kertas itu. Pagi ini hidungnya berdarah lagi, ini sudah yang kelima kalinya, dan kali ini dengan tetesan lebih banyak. Lara beringsut ingin mengambil lap, tapi ia terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya, ia muntah, tapi cairan merah. Lara mengucap nama Tuhannya, lalu matanya katup.

Untuk Malaikat Pelindung

Rumah awan, Mei 2009

Cerpen: Ketika Malam Merayap Lebih Dalam


“Ketika Malam Merayap Lebih Dalam”

Oleh: Wahyu Wiji Astuti

Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia‘07

Pagi ini kulangkahkan kaki keluar rumah. Terserah, yang kutahu bagaimana aku harus mengisi sejengkal perut lima mulut yang menunggu nanti siang.

Apa yang ku tahu tentang hidup, adalah hal yang tak terlihat oleh mata. Seperti geliat-geliat nasib yang merangkak menuju keabadian.

Untuk apa menangis, jika tak kan terisi perut karenanya. Tapi jika ingin menangis, menangislah karena kau hidup tanpa seorang pun yang membutuhkanmu ada, dan karena Tuhan tak menganugrahimu airmata.

Di sudut jalan itu kulihat seonggok manusia dengan telapak tangan menganga. Siapa yang ingin sepertinya? Tak ada! Bahkan tidak dirinya sendiri. Hidupnya adalah belas kasihan manusia dan sisa-sisa harapan yang kandas begitu saja. Tapi aku tak kan sama! Walau mungkin hidup bagiku hanyalah ketika malam tiba, ketika manusia terpejam dan nafsu merajalela.

Jangan katakan aku haram sebab aku mengais nasib dari pria yang menumpahkan maninya ke rahimku. Aku adalah pahlawan, karena pada pundakku memikul lima “bintang kejora” dengan binar yang tertutup debu. Mereka membuatkau merasa hidupku berarti. Senyum mereka adalah kado istimewa yang slalu kunanti tiap aku menginjakkan kaki ke pemukiman kumuh yang lebih pantas disebut rumah sampah.

Tidak! Itu rumah kami. Jika sampah, tentu saja yang menempati adalah sampah. Tapi kami bukan! Meskipun banyak sorot mata yang terkadang memandang jijik pada manusia seperti kami dan menyebut kami sampah masyarakat.

Siapa yang sampah? Bukankah mereka yang kerjanya hanya duduk santai di sofa empuk, menunggu gepokan uang dalam koper mahal menghampiri mereka lebih pantas disebut sampah?

Apa karena mereka selalu menyumpal mulutnya dengan makanan enak, membungkus raganya dengan baju mahal dan membubuhkan parfum di tubuhnya, lantas mereka boleh meludahi kami dari dalam mobil yang kacanya menyilaukan mata?

Bangsat!

***

Beberapa langkah lagi aku sampai di toko buku tempatku biasa bekerja. Tapi itu dulu. Sebab seminggu yang lalu aku dipecat karena ada pelanggan yang tahu kalau aku seorang wanita malam, lalu mengadukannya kepada bos ku. Memang! Aku merasa tidak adil awalnya, namun aku harus berbuat apa? Pemilik toko buku itu tak mau reputasi tokonya hancur dan pelanggan merasa tidak nyaman gara-gara ada seorang wanita lacur berada di toko itu.

Aku memandangi toko itu dari kejauhan, belum buka! Seperti biasa toko itu menungguku mengusap debu di penjuru ruangan dan rak-rak kokoh yang menjajari ruangan itu. Jika semua orang membenci dan menghindari debu, aku justru mencari dan berharap dia akan selalu ada. Ya! Aku bersyukur pada tiap debu yang hinggap di toko itu, sebab debu adalah sumber pencaharianku selain melacur.

Dulu setiap pagi, dengan sigap aku membersihkan debu-debu tanpa bosan, dan ketika toko dibuka dia akan terlihat bersih dan rapi. Dengan demikian orang-orang akan senang membeli atau membaca buku di dalamnya.

Aku juga menghargai buku seperti aku menghargai diriku sendiri. Semua buku yang ada di sana mengenalku dan menyayangi aku. Tentu saja! Setiap hari aku selalu menyapa mereka dengan menyusun letaknya agar tetap rapi, dan mengusapnya lembut jika dia mulai berdebu.

Sesekali aku juga sering membacanya diam-diam jika ada waktu luang dan ketika bos ku sedang tidak ada. Untungnya dulu ibu menyekolahkan aku walau hanya sampai kelas III SMP. Jadi aku mengerti setiap kata yang ada di dalam buku-buku yang kubaca.

Begitulah,,, Walau hanya seorang cleaning service, aku tak mau dianggap kolot dan dungu. Sebab itu aku membaca.

Dan ketika senja datang membawa siluet-siluet jingga, biasanya aku akan bergumam “Akh…, akhirnya tugasku selesai juga”. Aku sumringah, tugasku bergumul dengan debu telah selesai, tapi pergumulan tak akan sampai di situ, karena ketika matahari bersembunyi nanti, aku akan kembali bergumul dengan malam, beradu dengus nafas dan peluh dengan pria hidung belang.

Tapi tak apa. Aku suka!

Suka?

Gila!

Ya, aku suka karena aku akan mendapat lembaran-lembaran nominal setiap selesai berseteru dengan nafsu setan pria-pria jalang. Mereka yang jalang atau aku? Entahlah, aku tak peduli. Yang pasti mereka mata pencaharianku untuk memenuhi kehidupanku bersama kelima bintang kejoraku. Aku bahagia karena masih ada yang membutuhkan aku selain bintang kejoraku, atau mungkin lebih tepatnya membutuhkan tubuhku, terserah. Yang kutahu, aku bahagia, itu saja!

Ketika aku menghampiri malam, aku hanya bisa berharap ada Om muda baik hati yang memberiku uang lebih. Dengan begitu aku bisa membawa pulang uang yang lebih pula. Meskipun sebenarnya itu juga tidak cukup untuk memenuhi hidup enam orang manusia.

Cukup lama aku berdiri memandangi toko buku itu. “Mungkin buku-buku di sana merindukan aku”, pikirku.

Aku pun berlalu….

***

Sudah dua malam aku tidak melacur karena Bima sedang sakit, sebab itu hari ini tidak ada lagi uang tersisa untuk makan siang kami nanti. Sementara pesangon dari hasil pemecatanku minggu lalu sudah habis untuk membeli obat Bima. Aku bingung harus mencari uang darimana, tapi aku harus mendapatkannya sebelum matahari menunjukkan kegarangannya siang nanti. Ada lima orang bocah tak berdosa yang menunggu aku di rumah.

Semua pasti bertanya, siapa lima orang bocah yang kusebut bintang kejora itu? Adikku? Aku tidak punya adik lagi setelah satu-satunya adikku yang berusia lima tahun meninggal karena demam tinggi. Anakku? Mungkinkah seorang wanita berusia dua puluh tiga tahun telah memiliki lima orang anak dengan usia yang paling tua tiga belas tahun?

Tidak, mereka bukan siapa-siapaku, bahkan tidak ada hubungan darah sedikitpun denganku. Tapi aku telah menganggap mereka seperti adikku sendiri, aku sangat menyayangi mereka melebihi diriku sendiri. Mereka adalah Sari, Dedek, Anto, Raisya dan si kecil Bimo.

Bintang kejora yang paling besar bernama Sari, dia gadis yang manis, usianya tiga belas tahun. Aku bertemu dengannya setahun yang lalu. Malam itu aku baru saja pulang melacur, ketika aku melewati gang sempit dan sepi aku samar-samar mendengar tangis anak kecil. Dan kulihat seorang preman ingin menggagahi Sari yang sudah setengah telanjang sambil terisak-isak, sementara adiknya, Anto yang berusia 3 tahun menggigil ketakutan. Ketika itu Sari masih dua belas tahun. Aku berang melihat kejadian itu dan mencegah preman itu berbuat lebih jauh. Kebetulan aku mengenalnya, sehinga tidak sulit untukku memintanya menjauhi gadis malang itu.

Aku menggamit lengan Sari dan Anto, lalu mengajak mereka tinggal bersamaku karena dia mengaku sudah tiga hari minggat dari rumah karena kerap disiksa oleh Ayah tirinya setelah Ibu mereka meninggal dunia.

Dedek dan Raisya adalah anak seorang pengemis yang dulu sering bercengkerama denganku, namun kini dia berada di penjara karena membunuh suaminya sendiri. Jadi untuk sementara anak-anaknya yang masih kecil tinggal bersamaku. Dan Bimo yang kini sedang sakit adalah anak sahabatku yang juga seorang wanita malam. Namanya Nina, kehamilannya terjadi tanpa dikehendaki, dan pria yang menghamilinya adalah Om kaya yang tiap malam mengajaknya berkencan. Namun siapa yang mau mengakui anak hasil hubungan terlarang apalagi dengan seorang pelacur? Sebelum Nina meninggal dia menitipkan Bimo padaku. Maka jadilah aku hidup dengan kelima orang anak tak berdosa yang menggantungkan hidupnya padaku.

Aku tak pernah mengajarkan mereka untuk meminta-minta, karena aku tak ingin mereka dipandang hina. Untuk mendapatkan sesuap nasi, manusia harus bekerja. Namun aku pun tidak mengizinkan mereka bekerja karena mereka masih terlalu kecil. Aku juga tidak ingin Sari dan Raisya nantinya mengikuti jejak hidupku.

***

Setelah berjalan dari rumah ke rumah, akhirnya aku menemukan orang yang membutuhkan jasa mencuci baju hari ini. Lumayanlah, dari hasil cucian dua rumah aku mendapatkan sepuluh ribu rupiah. Botol bekas air mineral yang sepanjang jalan tadi aku kumpulkan mungkin bisa sedikit menambahi jumlahnya. Hari sudah beranjak siang, sudah waktunya aku pulang.

Benar saja, setibanya aku di rumah triplek berukuran 6 x 3 itu, aku disambut dengan senyuman manis dan binar mata bahagia dari kelima bintang kejora. Seketika lelahku hilang. Terlebih melihat Bimo yang sudah bisa tertawa. Ternyata panasnya sudah turun. Syukurlah…., aku memeluknya erat.

Malam mulai merayap lebih dalam, membawa mimpi bagi berpasang-pasang mata yang terpejam. Ketika manusia terlelap, aku bahkan tak menguap. Aku bangkit dari lantai yang dialasi tikar usang. Mencuci muka dan bersiap-siap untuk kembali bekerja. Bekerja? Ya! Melacur maksudnya, macam tak tau saja! Aku harus terus bekerja agar mampu menghidupi lima nyawa. Malam ini kan Bimo sudah tidak demam lagi, aku kini bisa meninggalkannya dengan lega.

Aku membubuhkan bedak dan gincu tebal. Tumpukan make up di wajahku membuatku tampak lebih cantik, apalagi dengan baju minim ini pasti akan menarik pria pemburu zina.

Aku mengecup kening Bimo sebelum meninggalkan rumah petak yang bau itu. Kakiku melangkah menuju sarang kupu-kupu malam. Baru saja aku berdiri di sana, sebuah Honda Jazz berhenti tepat di depanku. Setelah sedikit bernego aku masuk ke dalam mobil yang membawa kepasrahanku entah kemana.

Malam kian merayap lebih dalam, dan aku bersembunyi di balik kepuasan lelaki….

logo KOMPAK

logo KOMPAK

Serambi KOMPAK

SEKILAS TENTANG KOMUNITAS PENULIS ANAK KAMPUS (KOMPAK) A. Sejarah Singkat Kelahiran KOMPAK Pada awalnya salah seorang aktivis lembaga kampus yaitu Dani Sukma Agus Setiawan (mahasiswa UNIMED) mempunyai gagasan untuk membentuk sebuah wadah intrakampus yang berkonsentrasi penuh pada ranah kepenulisan. Gagasan tersebut mendapat sambutan hangat dari Rudi Hartono Saragih (mahasiswa Universitas Negeri Medan), Sri Rizki Handayani dan Budianto (mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara). Karena wadah ini merupakan kumpulan dari beberapa kampus, maka keempat pemrakarsa sepakat memberikan nama KOMPAK (Komunitas Penulis Anak Kampus) pada wadah tersebut. Keempat pemrakarsa juga sepakat member nama pada tim mereka dengan sebutan Catur Karya. Kata “catur” berarti empat, sedangkan “karya” merupakan mencipta atau menghasilkan sesuatu. Jadi catur karya bermankna empat orang yang mencipta atau menghasilkan sesuatu. Catur karya bekerja sama dan sama-sama bekerja menyatukan gagasan-gagasan selektifitas. Setelah melalui musyawarah panjang berdasarkan pemikiran-pemikiran dari catur karya, maka Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK) dideklarasikan atau resmi dibentuk pada tanggal 23 Desember 2008 bertepatan tanggal di gedung Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Kronologis Kelahiran KOMPAK Dilihat dari segi kronologis sejarah kelahiran KOMPAK, tidak terlepas dari tuntutan menumbuhkembangkan aspek keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Menumbuhkembangkan budaya menulis merupakan aspek yang seharusnya melekat dalam diri mahasiswa. Namun dilematisnya sering sekali budaya menulis hanya sebagai rutinitas memburu gelar akademik semata. Dengan kata lain wabah menulis yang menjangkiti paradigma berpikir seorang mahasiswa hanya demam S.Pd (sarjana Pendidikan) yang begitu kronis untuk diobati. Bukan bermaksud menaifkan gelar, tetapi alangkah baiknya jika gelar itu ditunjang dengan keterampilan menulis. Untuk mampu menulis mahasiswa harus sering menyimak informasi, membaca beberapa referensi dan bertukar fikiran dengan orang lain. Artinya dengan menulis seorang mahasiswa akan berpengetahuan luas dan wajib bagi mahasiswa untuk meningkatkan wawasannya. Oleh karena itulah catur karya termotivasi untuk membentuk wadah kepenulisan guna menumbuhkembangkan budaya menulis. Jadi sebagai mahasiswa kita harus mencatat sejarah. Karena, sejarah tidak akan pernah mencatat dirinya sendiri jika kita tidak pernah mencatatnya. B. Azas, Sifat, dan Tujuan Umum a. Azas Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK) berasaskan Pancasila b. Sifat KOMPAK adalah organisasi kemahasiswaan yang bersifat independen, ilmiah serta professional yang berorientasi pada kemajuan, keahlian dan peningkatan potensi penulisan. c. Tujuan KOMPAK bertujuan untuk melahirkan profesionalitas dan karakter penulis yang handal, memiliki dedikasi yang tinggi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dari aspek kepenulisan serta untuk memasyarakatkan karya melalui media massa. C. Visi dan Misi KOMPAK a. Visi Pengembangan sastra Indonesia dalam pembangunan bangsa. b. Misi 1. Mempercepat silaturrahmi antar pelaku seni 2. Mengoptimalkan pola berpikir, berperilaku dan berbudaya sastra melalui pelatihan 3. Memaksimalkan pengiriman karya ke media massa secara lebih aktif 4. Mengaplikasikan karya dalam bentuk seni pertunjukan 5. Menerbitkan buku sastra D. Kepemimpinan dan Keanggotaan KOMPAK a. Kepemimpinan 1. Diangkat melalui forum permusyawaratan resmi untuk masa jabatan tertentu 2. Bersifat demokratis dan religious serta memiliki loyalitas dan dedikasi atas tugas dan tanggung jawab b. Keanggotaan 1. Terdiri dari mahasiswa yang memiliki visi dan misi yang sama dengan KOMPAK 2. Diatur dengan system administrasi tertentu 3. Masa aktif keanggotaan 2 tahun setelah selesai studi 4. Pelatihan dan pengembangan anggota merupakan sasaran dan prioritas utama aktivitas KOMPAK E. Pengambilan Keputusan 1. Keputusan hanya dapat dilakukan melalui musyawarah resmi 2. Keputusan yang menyangkut teknis operasional dan hal-hal yang insidentil dapat diambil oleh unsure pimpinan tertentu. F. Struktur Organisasi KOMPAK Struktur organisasi KOMPAK terdiri atas Penasehat, Pembina, Ketua Umum, wakil Ketua, Sekretaris Umum, Wakil Sekretaris, Bendahara dan beberapa Koordinator.